Friday, September 22, 2017

"Kado Ulang Tahun, Kebutuhan atau Keinginan?"


            Ulang tahun kali ini memang berbeda, usianya yang sudah menginjak 6 tahun perlahan mengenal arti uang sebagai alat untuk jual beli. 20 september lalu, usia anak sulungku bertambah. Masa yang berbeda kali ini, karena kami tidak merayakan atau menghadiahinya kue ulang tahun. Sejak jauh hari, aku selalu memberitahukan padanya bahwa usia bertambah adalah masa untuk mensyukuri nikmat dan anugerah perpanjangan usia yang telah diberikan oleh Allah. Kue ulang tahun, kado, dan kemeriahan acara pesta lainnya bukanlah suatu kewajiban yang harus ada dalam setiap acara ulang tahun.
Awalnya Ia sedih, bertanya terus mengapa aku tak diberi kado, kapan kita beli kado, dan pertanyaan lain seputar kado yang terus terngiang ditelinga setiap kami pergi keluar. Namun, perlahan ia paham, kado adalah hadiah dari orang tuanya sebagai pertanda usianya bertambah. Ia mulai sabar menanti, tidak lagi menanyakan dimana dan kapan kado itu akan diberikan.
Semakin bertambah usianya, kami berharap ia semakin paham arti kebutuhan dan keinginannya. Walaupun jiwa kanak-kanaknya masih terlihat, saya masih memakluminya. Ia ditawari kado yang sesuai dengan kebutuhannya. Saat papanya bertanya,”Feeza ingin kado apa ?”, Ia masih bingung menjawab. Sempat ia melirik saya dan berharap mendapatkan jawaban. Padahal saat itu kami berharap ia memberitahukan kebutuhannya. “Mama, Aku bingung, pertanyaannya terlalu susah.” Mungkin saat ini, tidak ada kebutuhan mendesak menurutnya. Akhirnya aku mulai menjelaskan perbedaan keinginan dan kebutuhannya yang bisa dijadikan kado untuknya. Setelah diskusi panjang, kami pun berkesimpulan akan memberikannya sepatu roda. Tujuannya agar ia mau berolahraga fisik, dan badannya tidak lemas lagi. Feeza setuju dengan ide kami dan kami pun mulai mencari sepatu roda yang diinginkannya.
Setelah bertanya pada teman-teman yang terlebih dahulu telah memberikan anaknya sepatu roda, kami mengajak Feeza ke Toko tersebut. Ditengah pencarian, syukur Alhamdulillah ada yang menawarkan pinjaman sepatu roda anaknya untuk Feeza. Ia bersedia memberikan pinjaman untuk Feeza karena sepatu roda milik anaknya tidak terpakai. Feeza akhirnya mau mendengarkan penjelasan kami tentang tawaran peminjaman sepatu roda. Ia mau mencobanya terlebih dahulu, tidak terburu-buru ingin membeli yang baru. kami memberinya kebebasan untuk memilih setelah ia mencoba sepatu roda temannya. Apakah akan tetapmeilih sepatu roda sebagai kadonya, ataukah menggantinya dengan yang lain. 
Emosi Feeza masih labil saat melihat ada mainan lain yang menggodanya untuk dibeli. Terkadang, Ia masih ingin beberapa mainan, misalnya saja slime yang sebenarnya bukanlah kebutuhannya. Beberapa kali ia meminta ijin pda kami untuk membelinya. Kami harus berusaha menyadarkannya kembali mengenai konsep kebutuhan dan keinginan. Slime hanyalah mainan yang dimainkan sesaat. Pada akhirnya biasanya akan dibuang.
Nafeeza mulai mengerti perlahan, kini setelah usianya 6 tahun, membelanjakan uang haruslah hati-hati. Tidak lagi asal membeli, namun harus sesuai dengan kebutuhannya. semoga kami bisa membelanjakan uang dengan sebaikmungkin, dan hal ini menjadi pelajaran berharga untuk Feeza dimasa yang akan datang.  

#Tantanganlevel8
#KuliahBundasayangIIP
#Tantangan10hari
#Rejekiitupastikemuliaanharusdicari
#CerdasFinansial

#day2

               

0 comments:

Post a Comment

 

Circle Life of Shalia Template by Ipietoon Cute Blog Design