Wednesday, April 17, 2019

Aliran Rasa Komunikasi Produktif dalam Keluarga



Komunikasi Produktif

Alhamdulillah tugas T10 telah selesai dikerjakan. Ada banyak hikmah yang dapat diambil setelah melaksanakan tugas tersebut. Semakin menyadari bahwa komunikasi adalah kunci kita bisa berinteraksi dengan orang lain.

Cara kita bertutur kata, baik dengan pasangan maupun dengan anak, banyak perbaikan setelah menjalankan tugas ini.
Materinya tepat, langsung dipraktekkan apalagi. Lebih mengena dan membekas dalam hati.

Setiap kita berbuat dan ada sesuatu yang mengusik kesabaran, selalu teringat akan materi ini. Rasanya diingatkan terus menerus bagaimana seharusnya mengambil sikap.

Memang benar, komunikasi yang baik didukung oleh ilmu tentang komunikasi yang mumpuni. Terasa sekali bukan hanya ucapan verbal yang membuat penerima mampu mengerti apa yang dimaksud oleh pembicara. Faktor lainnya yang berpengaruh adalah intonasi dan gestur tubuh.

Kini anak sudah bisa mengerti ketika ibunya sedang marah, sedih, maupun  bahagia ketika gestur tubuh sudah terlihat walaupun suara belum terucap.

Semoga setelah belajar komunikasi ini, saya lebih baik dalam berkomunikasi dengan suami dan anak-anak. Kami dapat saling mengerti satu sama lain. Mengurangi, bahkan menghilangkan nada tinggi, berbicara lebih baik, dan tidak lagi menggunakan ego anak kecil ketika sedang berhadapan dengan permasalahan. Insya Allah bisa, Aamiin.

#AliranrasaKomunikasiProduktif
#Gamelevel1
#Tantangan10hari
#Kuliah Bunda Sayang
#KomunikasiProduktif
@institut.ibu.profesional

Saturday, April 13, 2019

Belajar Bertanggung Jawab Membereskan Mainan

Setiap hari, Kaka dan adik biasanya suka bermain peran. Memainkan mainannya berupa miniatur dinosaurus, boneka, tayo mini bus, dan berbagai perintilan kecil lainnya. Sayangnya, selesai bermain jarang sekali dikembalikan pada tempatnya.

Mainan yang satu selesai dimainkan, ganti lagi pada mainan berikutnya. Apalagi jika sedang merangkai cerita yang membutuhkan banyak barang. Semua mainan disusun rapi, berjejer diatas meja tivi atau di tangga. Mereka seperti pemain film yang sedang menunggu gilirannya untuk naik di atas panggung.

Jika keadaan seperti ini terjadi, biasanya saya diamkan terlebih dahulu. Selesai puas bermain, setelah beristirahat di kamar, mereka akan kembali menyentuh mainannya. Saat itulah saya meminta tolong untuk membantu membereskan mainan. Terutama pada sang Kaka yang sudah besar.

Saya ambil keranjangnya, meminta mereka mengembalikan mainan ke tempat semula.

Kebetulan saat itu, adiknya pup dan saya meminta bantuan kaka untuk membereskan mainan yang tadi berceceran di lantai, sementara saya membersihkan sang adik.

Biasanya, setelah dibersihkan pupnya saya mandikan sekalian agar bersih. Selesai mandi, adik berendam lama dengan mainannya. Saat itulah saya melihat kembali ke ruangan yang penuh dengan mainan berantakan.

Alhamdulillah, saat melihatnya mainan tersebut sudah rapi dan dibereskan kaka. Bahkan lantai yang kotor terkena bekas makanan adiknya, sedang disapukan oleh kaka. Saya memujinya atas prestasinya hari ini. "Terima kasih ya, Kaka sudah bantu Mama beres-beres hari ini. Mama sayang Kaka." Kami pun berpelukan.

Senang sekali rasanya Kaka sudah mulai punya kesadaran sendiri terhadap kebersihan lingkungan.

"Aku mau beresin mainan sebelum dede selesai mandi," jawabnya setengah berbisik.

Ia ingin memberi kejutan pada Mama dan adiknya. Masya Allah, saya terharu. Semoga kejadian ini, bukan hanya kali ini saja, namun berulang terus dan Kaka bisa memberi contoh pada adiknya.
Adik biasanya akan meniru apa yang sedang dilakukan kakaknya.

Hikmahnya setelah memberikan pujian spesifik, kaka menjadi lebih bertanggung jawab. Hubungan bounding ibu dan anak pun menjadi lebih erat.

Saya senang sekali atas perubahan sikapnya, semoga hal ini menjadi kebiasaan hingga ia tumbuh dewasa. Bertanggung jawab terhadap apa yang sudah dikerjakan olehnya.

#Harike10
#Tantangan10hari
#Gamelevel1
#KomunikasiProduktif
#KelasBundaSayang
@institut.ibu.profesional.

Friday, April 12, 2019

Menghormati Lawan Bicara dengan Mendengar Seksama

Lihat, Dengar dan Hormati Lawan Bicara

Alhamdulillah tantangan kali ini sudah masuk hari ke 9. Perjalanan panjang mengenai cara berkomunikasi agar bisa produktif baik itu dengan seumuran atau yang lebih tua dan yang lebih muda.

Seperti biasa kami sering bercanda sambil berdiskusi saat sedang leyeh-leyeh beristirahat sambil dipijit.

Momen yang tepat agar sebelum tidur family forum ini bisa terlaksana. Biasanya sambil pijit memijit, saya menanyakan apa yang terjadi di sekolah. Namun, rupanya setiap kami memanggil, Kaka seperti sedang tidak konsentrasi. Ia selalu mengulang dengan berkata, "Apa?"

Mendengarnya kami menjadi semakin gemas. Bingung mengapa Ia tidak bisa menangkap apa yang diceritakan oleh kami. Padahal jarak kami bercerita cukup dekat dan apa yang dibicarakan pun simple.

Akhirnya, saya mencoba mengurai pernyataan diawal dengan memberitahukan informasi secara sederhana. Teringat rumus komunikasi produktif yang harus menyampaikan informasi secara sederhana.

Perlahan, informasi yang saya beritahukan diserap. Kaka mulai dapat mengulang apa yang saya katakan. Kami sengaja menyuruhnya mengulang kembali agar ia ingat.

Disamping itu, kami menasehatinya dengan cara menggunakan contoh. memberinya contoh diawal, menceritakan pengalaman masa lalu, agar ia memperbaiki diri dan bersikap lebih baik saat lawan bicara.

Alhamdulillah setelah ditanya ulang, Kaka bisa menjawab pertanyaan kami. Kini lebih baik dalam mendengarkan lawan bicara.

#Harike9
#Tantangan10hari
#Gamelevel1
#KuliahBundasayang
#KomunikasiProduktif
@institut.ibu.profesional

Thursday, April 11, 2019

Dengarkan Seksama Penjelasan Lawan Bicara

Belajar Mendengar Penjelasan Orang Tua

Cuaca di Bandung hari ini panas sekali. Rasanya ingin segera masuk ke dalam dinginnya air kolam renang.

"Gerahnya", kata Papa.

"Dede mau renang?" Tanya Papa pada Zafran.

Kaka yang mendengar kata renang, langsung saja sumringah. Ia ingin juga ikut nyemplung ke dalam kolam supaya badannya terasa segar.

"Aku juga mau renang," Kaka setengah merengek pada Papanya.

Papa langsung menanggapi dan bilang, "Kata dokter Kaka belum boleh renang. Kaka masih harus istirahat, sedangkan dede tak apa renang."

Seketika Kaka langsung berurai air mata.

"Kenapa aku ga boleh renang?" Ia berusaha mencari penjelasan.

Papa yang sudah menjelaskan diawal merasa gemas. Namun, tetap saja kaka tak terima. Ia merasa kalau ia dibedakan dengan adiknya.

Saya juga ikut memberi penjelasan karena gemas melihat Kaka yang menangis.

"Ka, kaka belum boleh renang karena kata dokter telinga kaka sakit. Harus istirahat dulu dua minggu sayang."

Rupanya Kaka salah paham, ia harus diajak duduk berdampingan. Menerapkan kaidah 7%-38%-55% dalam komunikasi produktif agar semakin yakin kalau informasi yang ingin kita berikan diterima dengan baik.

Perlahan, saya menjelaskan padanya, mengulang kembali penjelasan diatas dengan intonasi yang merendah serta gestur tubuh yang meyakinkannya.

Akhirnya ia sadar kalau penerimaannya salah. Kaka meminta ijin untuk menemani adiknya main, hanya sekedar basah-basahan namun bukan berenang.

Alhamdulillah, kini kami pun mulai terbiasa menggunakan kaidah 7%  suara, 38% intonasi dan 55% gerakan tubuh.

Ternyata anak-anak pun mulai mengerti kalau melihat Mamanya melotot, tersenyum, atau sedang jahil bercanda.
Semakin terbiasa dengan kaidah ini, Kaka pun mendengar tanpa harus mengeluarkan urat lagi jika dipanggil.

Belum sepenuhnya sih, tapi kami masih tetap berusaha belajar memperbaiki diri setiap harinya. Semoga kedepannya lebih baik lagi.

#harike8
#Tantangan10hari
#Gamelevel1
#KelasBundaSayang
#KomunikasiProduktif
@institut.ibu.profesional

Wednesday, April 10, 2019

Ayo Belajar Ungkapkan Perasaanmu

Proses Belajar Komunikasi Produktif keluarga Shalia

Sore itu sepulang sekolah Nafeeza segera masuk ke dalam rumah. Ia disambut oleh kami bertiga dengan wajah sumringah. Namun, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah saat ayahnya memberi tahu, bahwa kami bertiga (saya, ayahnya, dan adiknya) baru saja pulang dari pantai.

Ia langsung saja berkomentar, "Aku iri, Papa!" Sambil berusaha menahan jatuhnya air mata.

 Hmm... ternyata reaksinya sesuai dugaan kami. Ia masih belum bisa menahan dan bereaksi sewajarnya untuk mencari tahu kebenaran berita yang disampaikan oleh orang lain.

Papanya yang melihat anaknya menangis langsung memeluk anaknya. Ia gemas sekaligus sedih melihat anaknya yang masih saja bisa dibohongi orang lain tanpa mencari tahu terlebih dahulu kebenarannya.

"Masa baru dibilangin gitu aja langsung nangis!" Ujar Papanya.

"Aku iri Papa," Kaka membalas ucapan Papanya dengan nada kesal.

Akhirnya Papa menjelaskan sambil menyuruhnya duduk berhadapan. Berusaha sejajar, saling melihat dan nada yang ramah.

"Kaka, kalau dapet informasi apa-apa itu dicerna dulu. Dicek dulu kebenarannya. Jangan langsung nangis atau marah." Papa berusaha menjelaskan panjang lebar.

"Coba dipikir dulu, apa bener Papa sama Mama pergi ke Pantai. Berapa lama dalam perjalanan, sedangkan tadi pagi masih ketemu dirumah. Masa jam 3 sore udah balik lagi?" Papa mulai menguraikan masalah menjadi solusi.

"Pantai itu jauh,Ka. Minimal pulang pergi aja harus 12 jam." Tambah Papa.

Kini Kaka berhenti menangis. Mulai berpikir dan mencerna apa yang sudah diberitahu oleh ayahnya. Ia merasa apa yang diperbuatnya itu salah.

"Mama tadi habis makan enak loh, Ka. Makan udon. Kaka kehabisan deh, ga kebagian. Abis Kaka telat datengnya!" Timpal saya menambahkan.

 Saya ingin mengecek sejauh mana ia memahami apa yang dijelaskan oleh Papanya barusan.

Kaka yang baru saja dibriefing oleh Papanya, merasa ucapan saya tak serius.

"Emangnya beli Udon berapa, dimana? Masa Kaka ga disisain!" Ia langsung memberondong saya dengan berbagai pertanyaan tanda menyelidiki.

Langsung saja Ia memeriksa meja dapur dan mencari siapa tau ada makanan enak yang bisa dimakan. Ia tak percaya apa yang saya katakan.

"Nah, ini ada udon punya siapa?" Ia menemukan 1 bungkus udon lengkap dengan udang tempura.

"Buat Kaka lah, masa Mama ga inget sama anaknya." Hehehe... saya menjawab dengan bercanda.

Alhamdulillah, ia sudah bisa mengerti apa yang dijelaskan oleh Papanya. Kini ia sudah bisa belajar mengungkapkan perasaan dan mencari tahu kebenaran dari pernyataan orang lain.

Ia harus mau menyelidiki apa benar yang diucapkan orang itu dan menanggapinya dengan kepala dingin. Bukan dengan menangis.

Hikmahnya setelah kita berkomunikasi dengan baik, memakai kontak mata, duduk sejajar, dan bicara satu level dengan anak, maka ia akan mendengar lebih seksama dan memahami apa yang kita jelaskan.

Kami merubah cara berkomunikasi dengan anak. Lebih tenang, berusaha lebih paham, dan menyampaikan penjelasan sederhana dengan nada sejajar dengan anak. Insya Allah perlahan banyak yang telah diperbaiki.

Mari berubah ke arah yang lebih baik, yuk. Semangat Kaka!

#Harike7
#Tantangan10hari
#Gamelevel1
#KelasBundaSayang
#KomunikasiProduktif
@institut.ibu.profesional



Tugas Apresiasi Tulisan


Tugas kali ini untuk mengapresiasi tulisan rekan di kelas bunda sayang.

Saya memilih cerita dari Mba Ria yang dapat dilihat disini

Saya menyukai caranya bercerita. Selalu saja ada kejadian menarik dari kegiatannya bersama anak-anak.

Selain itu, bahasannya jelas dan ada hikmah di dalamnya. Bisa menjadi refleksi diri dalam membersamai anak.

Sebagai ibu, tentunya saya butuh banyak referensi dan berbagi pengalaman dengan ibu pembelajar lainnya mengenai proses membersamai anak-anak. Hal ini dapat menginspirasi saya untuk kedepannya bagaimana bersikap dan memahami kebutuhan anak tanpa harus adu otot. 

Biasanya dengan berbagi pengalaman, apalagi jika pernah dalam posisi yang sama, maka kita akan merasa lebih lega. Disamping itu pengalaman kita dapat bermanfaat untuk orang lain.

Semoga kedepannya, kami para ibu dapat berbuat lebih baik lagi dalam membersamai tumbuh kembang anak. Menggunakan cara komunikasi yang produktif, sehingga anak tak lagi merasa segan atau canggung dalam berhubungan dengan orang tuanya. Aamiin.

#Tugasapresiasi
#KelasBundaSayang
@institut.ibu.profesional

Mendadak Liburan dengan Anak Tanpa Mainan? Enjoy Aja Lagi


Halo Mama, apa kabar?

Kali ini saya mau berbagi pengalaman ketika tiba-tiba suami mengajak liburan bersama anak-anak.

Rencana yang tiba-tiba pastinya membuat kami senang sekali. Bagaimana tidak, biasanya liburan harus menanti suami cuti dan pas dengan jadwal libur anak sekolah.

Walaupun perginya hanya sekedar beberapa hari, namun karena mendadak ada saja beberapa item yang tertinggal. Mulai dari mainan kesukaan, sikat gigi, atau barang perintilan lainnya.

Jika tempat liburan di kota, kami bisa membeli barang yang kami butuhkan secara dadakan. Namun, kalau harus membeli mainan mahal di tempat wisata, rasanya sayang ya. Mengingat di rumah banyak mainan yang masih bisa digunakan. Kalau harus beli lagi, kan jadi pemborosan. Hehehe... Emak irit mode on.

Nah, ada beberapa tips yang dapat dilakukan jika mainan yang disukai anak-anak tertinggal. Hal ini bisa menjawab kegundahan kita sebagai emak-emak jika anak rewel ditengah liburan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah :

# Bermain Peran

Anak saya senang sekali jika diajak bermain peran. Kita bisa menggunakan barang yang ada di sekitar. Entah itu sisir, minyak kayu putih, bedak, dll. Anak akan semakin kreatif membuat cerita sendiri, menambah kosakatanya. Biasanya mereka tak mau jika Mamanya ikut main, menganggu katanya. Alhamdulillah, bisa me time😁

# Bermain Menumpuk Benda

Barang yang dibawa untuk liburan tentunya terbatas. Tidak semua mainan anak bisa dibawa. Nah, untuk menyiasatinya, kita bisa menggunakan barang berupa kosmetik yang dibawa, untuk ditumpuk. Kalau anak saya bilangnya main gedung-gedungan. Kadang dia asyik sendiri menyusun barang hingga menjadi gedung yang tinggi.

#Bercerita dan Mendongeng

Bingung tak ada yang dapat dilakukan, biasanya saya membawa anak-anak ke kasur. Untel-untelan sambil bercerita. Mereka akan merespon apa yang saya ceritakan. Menambahkan ceritanya sesuai ide masing-masing. Makin asyik lagi jika mendengar suara aneh yang ditimbulkan saat mendongeng, disertai gerakan gestur tubuh kita yang menarik untuk mereka.
Kadang mereka tertawa, kadang terlihat ketakutan, atau terharu. Seru deh pokoknya.

# Bermain Petak Umpet

Ini permainan ampuh yang dapat dilakukan untuk melupakan waktu dikala bosan. Mereka senang bersembunyi mencari tempat yang aman. Lucunya, karena kedua anak saya masih kecil, mereka malah menampakkan diri setelah saya selesai menghitung. Padahal seharusnya tetap bersembunyi, hehehe...
Namanya juga anak-anak ya. Sudah diberi tahu aturan main, tetap saja datang dan mencari mamanya. Mungkin mereka takut bersembunyi di tempat gelap.

# Berjalan-jalan Melihat Pemandangan

Kala anak sedang rewel di tempat wisata, biasanya ia akan diam saat diajak berjalan-jalan. Semakin senang jika menemukan jajanan khas yang jarang ditemui. Es krim misalnya, jika cuaca sedang panas, pastinya menjadi pelepas dahaga yang menyenangkan.

#Bermain Tebak-tebakan

Kita bisa menciptakan ide kreatif bermain tebak suara, tebak lagu, atau pertanyaan lucu yang membuat anak harus menebak apa jawaban yang benar. Kami sering saling berpandangan karena kesulitan mencari jawaban. Eh, taunya jawabannya nyeleneh diluar dugaan kami. Walau begitu, tetap asyik loh, Mams.

Permainan ini cukup efektif membuat anak kembali ceria dan tidak cranky serta dapat menghabiskan waktunya bermain bersama.

Nah, semoga tips diatas bisa membantu ya, Ma. Saya biasanya mencoba tips diatas ketika anak-anak rewel. Alhamdulillah berhasil, dan anak-anak tetap enjoy menikmati liburan.

Selamat mencoba Mama, semoga berhasil ya. Salam sayang saya untuk si kecil.




#LiburanbersamaAnak
#FamilyTime



Saturday, April 6, 2019

Mengapa Anak Perlu Belajar Bicara Mengungkapkan Pendapatnya?

Mengapa Anak Perlu Belajar Bicara ?

Halo Mams, apa kabar ?

Masih belum bosen kan baca postingan mengenai komunikasi?

Ternyata komunikasi adalah bab pertama yang menjadi pembuka untuk keberhasilan belajar di tahap selanjutnya. Hal ini dikarenakan komunikasi merupakan bekal kita dapat berhubungan dengan orang lain. Bagaimana orang lain bisa paham apa yang kita maksud, begitu pula sebaliknya kita paham apa yang dimaksud oleh orang lain.

Nah, komunikasi yang akan saya bahas kali ini mengenai komunikasi dengan anak.

Pernahkah Mama merasa kebingungan saat anak tiba-tiba pulang ke rumah sambil menangis?

Saat Mama menanyakan apa yang terjadi, ia hanya diam saja tanpa mau bicara. Di lain kasus ada pula anak yang hanya terdiam ketika mainannya direbut oleh orang lain, atau hanya melamun saat disuruh melakukan sesuatu.

Ternyata hal tersebut salah satunya disebabkan oleh kesalahan dalam berkomunikasi antara anak dan orang tua. Saat ditelusuri ada kesalahan saat kita menyampaikan apa yang kita maksud kepada anak kita.

Anak adalah peniru ulung. Mungkin mereka hanya dapat mencontoh apa yang telah kita perbuat tanpa kita sadari. Mereka terkadang tak dapat mengungkapkan apa yang mereka rasakan, tapi lebih cepat meniru apa yang kita perbuat.

Oleh karena itu, hal yang paling mendasar kami perbaiki adalah berkomunikasi. Pola yang dulu kami anggap benar, ternyata ada metode yang perlu diperbaiki.

Salah satunya saat menanyai anak sepulang sekolah. Biasanya pertanyaan saya standar hanya menanyakan, "di sekolah ngapain aja tadi?" "Belajar apa?"
Mungkin ini pertanyaan biasa, namun membuat anak bosan. Lain halnya jika kita menunjukkan empati terlebih dahulu, lalu menanyakan hal apa yang membuatnya demikian.

Misalnya saja, "Kamu kelihatan sedih hari ini. Pasti lelah sekali ya di sekolah. Apa yang membuatmu lelah?" Biasanya dengan dipancing beberapa kalimat, ia tanpa sadar akan menceritakan apa yang dialaminya, dan membuatnya senang, sedih, atau bahagia.

Mengapa Anak Perlu Belajar Mengungkapkan Pendapatnya?

Hal ini dikarenakan agar anak bisa lepas mengungkapkan ekspresinya tanpa ada beban yang tersimpan dalam hati. Jika beban atau pendapatnya hanya tersimpan dalam hati, maka akan jadi masalah di kemudian hari, tinggal menunggu bom waktu saja. 

Selain itu, belajar mengungkakan pendapat menjadikan anak tau bersikap. Mana hal penting, mana yang tidak penting. Ia bisa memberitahukan kepada orang disekitarnya apa pendapatnya, bagaimana reaksinya, dll. 


Saya masih belajar juga dalam membiasakan diri berkomunikasi dengan anak menggunakan kalimat produktif. Semoga dengan adanya perkuliahan ini, diri ini senantiasa bisa mengerem emosi dan lebih baik lagi dalam berkomunikasi. Saya berharap bisa menjadi sahabat terbaik dari anak-anak saya, sehingga mereka terbuka mau mengungkapkan pendapatnya dengan cara yang baik, Aamiin.

#harike6
#gamelevel1
#Tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Berlatih Bicara dan Mengeluarkan Pendapat


Pagi ini suami saya masih mendapat cuti dari kantor. Hari jumat, sabtu, minggu, cukuplah 3 hari untuk pergi refreshing berjalan-jalan.

Sebetulnya kami berencana pergi ke luar kota dan menghabiskan liburan bersama. Namun, kakak tak setuju karena ia masih harus sekolah.

Awalnya kami mencoba menanyakan kembali. Meyakinkan apakah kaka benar-benar tak mau ikut liburan? Ternyata, ia sudah punya pilihan. Ia tak mau bolos sekolah lagi karena sudah dua pekan setiap hari jumat ia tak sekolah.

Ia tak mau melewatkan kesempatan meminjam buku dari sekolahnya. Setiap hari jumat ia boleh meminjam buku, yang kemudian akan diresume gambarnya dalam buku tugas.

Kali ini, kaka sudah bisa mengeluarkan pendapatnya dan memberitahukan keinginannya. Kami tak dapat memaksakan kehendak. Akhirnya, rencana liburan pun ditunda sampai besok.

Alhamdulillah, kali ini kaka bisa belajar bicara mengungkapkan pendapatnya. Tidak lagi menangis jika ada hal yang tak sesuai dengan keinginannya.

Semoga kedepannya, kaka bisa lebih baik dalam berkomunikasi, baik pada teman seumuran, yang lebih tua, atau yang lebih muda. Aamiin.

#harike5
#Tantangan10hari
#Gamelevel1
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
@institut.ibu.profesional

Thursday, April 4, 2019

Ajak Anak Belajar Bicara



Salah satu pr kita sebagai orang tua adalah mengajarkan pada anak cara berkomunikasi yang benar. Anak harus bisa mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya dengan baik, tanpa marah-marah.

Seolah gampang ya? Anak sudah bisa bicara dengan jelas, ya tinggal suruh ngomong aja! Usianya kan bukan balita lagi.

Hmm... andai saja bisa seperti itu.
Nyatanya tidak. Walaupun sudah besar, namun tetap perlu dibekali dengan ilmu.
Mereka harus tau bagaimana cara berbicara dengan orang yang seumur, lebih muda, dan lebih tua, dalam mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.

Ada adab yang harus mereka ketahui, agar berkomunikasi sopan dan santun.

Sebenarnya untuk apa belajar bicara?

Anak perlu belajar mengungkapkan apa yang ia inginkan. Bahasa adalah alat penyambung yang dapat memberitahukan apa yang ada dalam pikiran kepada orang lain.

Jika anak sudah mampu bicara mengungkapkan pikiran dan pendapatnya, maka tak kan ada lagi unek-unek yang tersimpan. Membuat mereka jera untuk tidak berkata jujur pada orang tuanya.

Kedekatan anak dan orang tua semakin terjalin saat komunikasi berjalan dengan baik. Anak menganggap orangtua adalah sahabat yang terbaik untuk bicara. Sehingga jika terjadi apa-apa di luar sana, anak bisa mengatakan tanpa takut.

Kami sedang belajar menerapkan hal ini pada Kaka. Kami ingin ia bisa bicara mengeluarkan isi hatinya, saat ada keadaan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya.

Selama ini ia sering menangis jika diajak bercanda oleh kami atau temannya. Mungkin perasaannya yang sensitif dan bingung belum bisa bersikap apapun, refleks membuat ia langsung menangis.

Sebetulnya hal ini sudah sering diingatkan oleh kami. Menangis setiap ada masalah bukanlah hal yang baik. Untuk itulah kami melatihnya untuk mau berbicara jika ada hal yang membuat hatinya tidak enak. Karena jika dipendam, tidak baik untuknya.

Ada beberapa cara yang kami lakukan untuk mengajak anak berbicara diantaranya :

- Jika anak menangis, peluk ia dan ajak untuk meredakan emosinya terlebih dahulu.

- Tanyakan apa yang membuatnya tidak enak hati, bukan dengan cara menginterogasinya.

- Ungkapkan empati terlebih dahulu sebelum bertanya panjang lebar

- Berikan refleksi pengalaman sebagai contoh

 Misalnya : dulu Mama saat seusia kamu, mama...

- Fokus pada solusi permasalahan, bukan terus mengulang kesalahan

Nah yang ini saya masih terus belajar, karena terkadang saya selalu mengungkit kesalahannya, kamu sih gini.. kamu sih gitu, padahal seharuanya langsung fokus pada solusi.

Setelah dicoba beberapa kali, akhirnya ada perubahan sedikit demi sedikit. Ia mulai bisa diajak bicara walaupun hatinya sedang kesal.

Ia mulai mengungkapkan alasan4 atas sikapnya. Perlahan kami terus melatihnya untuk bicara setiap ada unek-unek di hatinya. Kini ia mulai bisa diajak bicara dan mencari solusi atas permasalahan yang ada.

Semoga kedepannya, ia lebih baik lagi dalam berkomunikasi. Kami pun bisa mengerti dan paham apa yang ia maksud.

#harike4
#gamelevel1
#Tantangan10hari
#KomunikasiProduktif
#KuliahBundaSayang
@institut.ibu.profesional




Wednesday, April 3, 2019

Belajar Memaknai Komunikasi Produktif Part 2


Game Level 1 Komunikasi Produktif


Tak terasa hari ini memasuki hari ke-3 game komunikasi produktif. Awalnya saya bingung menuliskan laporan apa yang harus saya tulis, rasanya tidak ada sesuatu yang spesial hari ini. Kami pergi ke Total Buah, tempat yang khusus mejual buah-buahan. Saat itu kaka meminta saya untuk membelikannya milo. Susu coklat kesukaannya.

Sesampainya di rumah, ia ingin membuka susunya dan meminumnya. Namun, adiknya yang melihat kakaknya membawa milo, tiba-tiba saja menginginkan juga susunya. Sementara itu, kakaknya tetap bersikukuh tidak mau membuka karena ingin membawanya ke sekolah sebagai bekal saat snack time tiba.

Mulailah mereka saling berebut, mempertahankan keinginan masing-masing. Hmm…kesabaran mama diuji lagi ni. Saya mencoba mengingat rumus komunikasi produktif dengan anak. Disini tentunya kita harus berusaha memaknai keinginan anak terlebih dahulu sebelum kita memberi perintah lanjutan.

Saat situasi semakin memanas, saya mencoba bernegosiasi dengan kaka. “Ka, Mama minta tolong susu milonya dibagi dua ya, sebelum adiknya semakin marah. Nanti, besok Papa belikan susu milo yang baru.” Rupanya kaka mengerti maksud saya. Ia akhirnya memberikan milo dan bersedia membaginya dengan adiknya.

Kejadiannya akan berbeda jika saya hanya memberinya kalimat perintah dan langsung memintanya memberikan susu milo pada adiknya. Mungkin kaka juga akan berpandangan tidak adil kepada Mamanya.

Dalam hal ini, ternyata kunci komunikasi untuk mengganti kalimat perintah dengan permintaan benar-benar berhasil. Anak akan lebih merasa dihargai karena orang tuanya mengetahui apa keinginannya, dan memberinya pilihan.

Komunikasi dengan anak ternyata susa-susah gampang. Susah jika kita belum mengenali apa kemauan anak dan mengerti ilmu apa yang seharusnya kita pakai. Namun, jika kita sudah tau kuncinya, Insya Allah terasa lebih mudah, dan kita bisa saling memahami.

Memaknai kemana arah pembicaraan mereka, ditunjang pula oleh sikap badan kita, bagaimana kita memperhatikan mereka tanpa ada kegiatan lain yang kita lakukan. Semoga, semakin hari, kami bisa lebih baik lagi dalam berkomunikasi. Aamiin.

#harike3

#gamelevel1

#Tantangan10hari

#KomunikasiProduktif

#KuliahBundaSayang

@institut.ibu.profesional.



 

Circle Life of Shalia Template by Ipietoon Cute Blog Design